Kontras langit ke bumi segera terasa waktu menjenguk ke dalam novel, saat novel begitu jauh berjalan. Imajinasi memandunya ke jauh, tapi hasrat membawanya ke dekat hidup kita lagi.
Apakah kita tahu di mana Lauh Mahfuz? pujangga iqbal dari pakistan dalam bukunya "rekonstruksi" menyebut "lauh mahfuz", dalam kaitan dengan luasnya pikiran yang melingkupi, mengikat apa yang ada.
Jejaknya hanya pada bahasa, bukan ruang dan waktu fisik. Tapi dengan memetiknya, meletakkannya ke dalam nama novel, nugroho suksmanto telah memprovokasi tentang jejak yang tak terlacak.
Novel tebal 499 dan diterbitkan oleh gramedia pustaka utama tahun 2012, menurunkan apa yang tak terlacak itu, membuat gerak realis saat ia membuka bab pertamanya. gelisah, katanya, dan itulah bab pertama dari novel lauh mahfuz. dan inilah yang saya maksudkan dengan kontras itu: gelisah dari mahluk di bumi, dan lauh mahfuz dari keberadaan yang tak terlukiskan di langit.
Apakah mahluk langit juga gelisah? gelisah jelas mahluk bumi, sebuah ciri khas manusia. dan novel bukan saja menurunkannya sebagai sebuah nama dari bab, tapi memakainya sebagai tehnik bercerita realis. langit direngkuh dan langit itulah lauh mahfuz yang tidak kita kenali. tapi bumi yang menjadi cara awal sang novelis bercerita, lewat satu kata gelisah yang menjadi dunia kita bersama. kata gelisah ini seolah menidakkan nama novel oleh sifat bumi-nya bukan sifat langit-nya.
Seolah-olah gelisah itu tanda yang dipasang nugroho, tanda yang mesti kita hubungkan segera dengan nama novel: lauh mahfuz, yang tak tergapai tangan di mana letaknya. oleh inikah ia lalu gelisah? bahwa kita di bumi gelisah dengan mereka di langit tinggi. langit dan bumi itu juga ada dalam skala pemikiran iqbal, akan pikiran dalam kaitan gejala kehidupan yang lebih luas. lompatan dari lauh mahfuz ke "gelisah" itu tiada terkira-kira, sebuah ruang dan sebuah waktu, yang jauh dari kosakata kepengalaman kita manusia kecuali lewat bahasa. bahasa bukanlah pengalaman konkret. manusia mengalami dan pengalamannya itu ada di bumi - bukan di langit, tempat lauh mahfuz itu kita temukan lewat bahasa.
Tapi bukanlah lewat bahasa kita mulai menikmati kalimat-kalimat nugroho suksmanto, saat ia membuat 'langit" di "bumi" dan itulah sebuah gedung tempat di mana tokoh ini bermain. sebuah gerak lagi lagi seakan tanda: apakah kebetulan belaka, misalnya oleh pengalaman sang pengarang, bahwa setting novel ini adalah sebuah gedung, yang disapa sebagai "tingkat tertinggi"? atau itu adalah gerak turun yang belum selesai dari dipakainya lauh mahfuz sebagai nama, bahwa novelis sedang turun ke bumi dari langit yang tinggi. saat turun, ia belum sepenuhnya menjejak, tapi berhenti, atau ia telah menjejak tapi kemudian naik lagi - naik ke "dari lantai 28, tingkat tertinggi menara anugrah", pucuk-pucuk jauh dunia jakarta sebagai ibu kota negeri terlihat.
Lauh mahfuz adalah pena dan pena yang diciptakan sebagai mahluk kedua setelah diciptakan mahluk pertama ini mencatat kisah-kisah di bumi dari langit yang tinggi. nugroho suksmanto naik ke sini dan memetik untuk novelnya - lauh mahfuz. apa yang dipetiknya itu menjadi sebuah lingkaran yang menarik, saat "gelisah" menjadi kata yang pertama ia nukilkan dalam bab awal novel. gelisah ini juga antara lain yang dicatat oleh pena lauh mahfuz.
Seakan-akan sebagai novelis nugroho menghidupkan dan membawakan imajinasi di langit yang misterius itu sebuah bahasa, bahwa imajinasi yang unik dan penuh aura misterius itu, bahwa di langit ada pena yang kerjanya mencatat seperti di bumi para pedagang mencatat timbangan di atas dacing, itulah mula pertama yang ada saat mendengar bahwa pena itu mencatat. (kita takjub sekaligus takut: apa yang dicatatkan oleh pena gaib itu?).
Pena itu pula yang mencatatkan sifat dari penciptaan manusia. bahwa manusia diciptakan lewat gerak azali: resah gelisah. bila dirimu tertimpa musibah maka gelisah memenuhi segenap jiwa dan ragamu. bila dirimu kuberi kesenangan tiap kujur bulu bulu di tubuhmu mekar riang tak ingat diriKu lagi. itulah kira kira kegelisahan yang menjadi asali sifat kita, dicatatkan oleh lauh mahfuz dan kini diciptakan untuk kedua kalinya lewat catatan dari sebuah novel: lauh mahfuz, setelahnya, "gelisah", sebagai nama dari babnya.
Novel adalah lingkaran konstruksi di mana tiang-tiangnya, mestilah kokoh agar novel menjadi langit makna kedua setelah langit pertama tak runtuh. langit tak runtuh oleh ia dinaungi hukum gravitasi - benda benda saling tarik menarik. pun novel saling tarik menarik. betapa kita melihat tiang raksasa bernama lauh mahfuz itu mulai ditarik oleh gelisah sebagai sub-tiangnya. lingkaran satu novel gelisah dan gelisah ini menjadi tiang penopang struktur novel nugroho suksmanto.
Bayangkan andai lauh mahfuz itu tak ditopang tiang yang begitu hakiki, semisal gelisah itu, kita akan kehilangan kesempatan untuk menghidu-hidu dari suatu nama yang begitu mendebarkan: lauh mahfuz sebagai pena seolah guru di depan kelas yang menghitung: mana murid nakal tapi guru itu menghilang, sehingga murid nakal yang gelisah kehilangan elan dari suatu vitalitas kisah hidupnya kelak. tak ada guru tak ada murid. tak ada tuhan tak ada mahluk. tak ada lauh mahfuz tak pula ada gelisah: darimana tiang pertama gelisah sebagai pembukaan novel, tanpa lauh mahfuz yang menceritakan kegelisahan sebagai watak dasar mahluk, yang abadi dan karena itu universal.
Apa yang menarik, dunia maha tinggi lauh mahfuz itu dan dunia maha luas dalam lebar gelisah itu, ditarik oleh nugroho ke dalam penciptaan dari bahasa sehari-hari. yang abstrak dan nyaris absurd itu kini menemui idealitas dari dunia pemikiran dalam genre sastra novel: ia dikonkretkan, lewat cerita dari kisah kisah manusia. nugroho menyadari bahwa lauh mahfuz itu dunia gaib yang antah berantah, dan untuk itu dibutuhkan dunia konkret agar apa yang "kacau-balau" membuat shock pengertian itu kini kita bisa mengerti oleh ia terbayangkan - karena ia adalah hidup sehari-hari, yang tampak normal tapi setelah kita tembus, apa yang normal ini rupanya berisikan rerangkai yang sedemikian menakjubkan.
Sebagai penganut "seni-fakta" di samping "seni-fiksi", saya membayangkan bahwa agaknya ali audah diliputi kegembiraan saat melihat taufiq ismail "mesra" bersama gunawan muhammad saat mereka membawa ke bahasa kita iqbal ini, iqbal yang di toko buku berbahasa inggris saya lihat di senayan dan lirikan mata mengatakan, ah mahal buku itu. memang aneh: ilmu yang dikatakan objektif tanpa pamrih karena ia adalah burung bahasa yang tengah dan terus mengejar keindahan serta kebenaran, atau kebenaran yang indah, itu mahal. seolah-olah ada paradoks di sini dan indikasinya adalah mahal dari suatu alat tukar.
Tapi kemarin kita melihat orang berdiskusi, betapa suatu negeri telah mengambil alih di soal-soal seputaran buku ini: mereka menggratiskan buku sehingga orang ramai bisa berlumba-lumba mengetahui isi buku. dalam kerangka ideal seperti itu pengarang buku telah dipikirkan oleh sistem besar, sehingga "murahnya" buku tak serta merta mematikan kreatifas para pengarang. orang bisa hidup layak lewat kerja apa saja pun pekerjaan mengarang itu, karena mengarang seperti menugal padi juga pada akhirnya. inilah dunia konkret seperti konkretnya wajah tiga pengarang ternama kita itu, saat mereka menerjemahkan kata kata iqbal ini yang ada hubungan langsung dengan bab pertama gelisah nugroho suksmanto: konkret dari kehidupan sehari-hari juga.
Iqbal (hal. 9) :
"Keseluruhan yang lebih besar itu, untuk memakai metafora dalam al quran ialah semacam lauh mahfuz yang menyimpan semua kemungkinan-kemungkinan pengetahuan yang tidak menentu sebagai suatu kenyataan yang ada, menjelma dalam rangkaian waktu sebagai pengertian beberapa konsep, yang masih terbatas, yang tampaknya akan mencapai suatu kesatuan yang sudah ada di dalamnya. dalam kenyataan, kehadiran yang maha tak terbatas dalam gerakan pengetahuan sangat memungkinkan adanya pikiran yang terbatas."
Ketakterbatasan yang diberi nama "oleh" nugroho sebagai lauh mahfuz, itulah yang kini ia "batasi" lewat penceritaan novel realis sebagai awal atau strategi tekstual yang ia pilih. seolah-olah alam maha lebar kini melingkar, sebelum sampai ke ruangnya sendiri. alam itu kini dibuat kecil dan berhenti di ruang dan waktu khusus, tempat tokoh-tokoh novel ini bermain. dipilihnya kata "gedung" membuat novel meraih tingkatan puisi walau ia adalah prosa. sebab gedung itu seolah bahasa, tempat kata tenggelam di dalamnya - gedung itu seakan jiwa juga, tempat segala makna, juga tenggelam di dalamnya.
Puisi yang mekar ke arah prosa lagi, ruang-waktu di mana novelis nugroho memerlukan lima halaman pembukaan untuk memekarkan apa yang telah ia buat mengecil ("seantero kawasan antarbangsa Mega Kuningan yang terlihat"), sebuah mata dekat menarik apa yang jauh, tapi "mata-dekat" yang segera pula menjadi "mata-jauh" saat jarak "seputaran" ('dari lantai 28', kalimat awal nugroho) itu kini dilebarkan, sedemikian lebar sehingga "pikiran" itu terkuak pula ditarik seolah karet untuk mencoba mengerti - yang dimengerti itu adalah apa yang dikontraskan oleh iqbal tadi: "daerah tak terbahasakan/daerah yang dibuat mengecil sehingga terbatas agar apa yang tak terbahasakan itu mempunyai peluang untuk menjadi daerah yang kita mengertikan", dan itulah tehnik mengulur novel yang diperagakan lewat gerak "berita" dari dalam novel: nugroho menjangkau, meluas-lebarkan "seputaran menara anugerah" itu sampai ke george w bush dan nato, terus mulur hingga ke obama dan tahulah kita apa maksud dari ruang yang direntangkan seperti ini.
Inilah kehendak seorang novelis menjangkau dunia dan dunia itu memang adalah bagian dari isi di mana pikiran manusia bisa menjangkaunya - ia terpikirkan oleh pikiran itu, tapi ia melakukan paradoks dari dalam dunia itu saat menciptaan kotak kotak labirin di antaranya, yang antara lain adalah "dunia luar" (kisah-kisah negara/manusia dalam dunia) menjadi "dunia-dalam" (kisah suatu negara dengan manusia di dalamnya): gedung dpr, sukarno, gerakan 30 s, istana, rakyat dan lain lain sehingga kita tahu bahwa semua itu adalah hidup nyata ini sendiri. (panji tokoh novel sering melihatnya lewat teleskop).
"Dari teleskop yang dapat dipindah-pindahkan, panji sering tergugah mengamati perisitwa seperti itu, yang merupakan bagian dari kebebasan yang diberikan oleh era reformasi."
Tapi apa yang menarik, seketika dunia dilebarkan seketika itu pula nugroho menariknya kembali, ke arah dunia penciptaan yang menjadi kisah lauh mafuz di mana Tuhan dengan pena tak kelihatannya bekerja mencatat dalam kitabnya lauh mafuz. nugroho di halaman pertama itu, persis setelah "lewat teleskop dari sebuah gedung lantara 28, memandang dengan mata dekat adalah seputaran jakarta, meluaskan dengan mata jauh menjangkau amerika", kini bergerak masuk ke inti adalah Tuhan, yang divisualisasikan lewat sebuah lukisan agus suwage, tapi puisi yang menjadi bahan dasar agus melukis Tuhan-nya. puisi ini yang dibawakan ke dalam buku lauh mahfuz oleh nugroho.
Tuhanku, kata novel lauh mahfuz itu,
Tuhanku tuhan yang diam
tidak lagi bicara atau bersabda
tidak lagi bicara atau bersabda
Cerita
Bergerak mengikuti dunia perumpamaan, maka pena sebagai metafor di lauh mahfuz itu mencatat setiap isi ada, bukan isi ada manusia atau mahluk hidup, tapi segenap alam semesta ini, yang dicatatkan oleh pena-gaib dan lauh mahfuz adalah kitab tempat pena-gaib itu mencatat. tetapi lalu kita memasuki dunia lapisan, di mana pena-kedua itu kini mulai bekerja, lewat tubuh dan jiwa manusia, ruang di mana pena-metafor itu kini mengkonkretkan diri. jadi pena abstrak itu kini menjadi pena konkret. ia berupa tangkai bulu angsa di ujung lengan kita itu. tapi ia serupa pena-gaib pertama, pena-kedua ini.
Pena yang mencatatkan akan perjalanan hidup setiap ada, seperti kini pengarang, pena kedua itu, mencatatkan pula hidupnya saat melihat dan mengalami dunia. seperti nugroho suksmanto, yang mencatat lewat pena-kedua sebuah buku bernama novel - lauh mahfuz. seolah-olah setiap hal kini mencatatkan dirinya sendiri. tapi itulah lapisan, dari suatu pena pertama yang melebar ke pena kedua. dari lauh mahfuz sebagai isi yang cair kini mulai memadat ke setiap kisah yang disandang oleh manusia atau ada. laku dari gunung sebagai pena-kedua yang mencatatkan dirinya, lewat nama novel bernama gempa bumi, itu adalah terusan belaka dari pena pertama yang telah membuat riwayat sebuah gunung, bahwa tahun ini di zaman itu, sebuah kota bernama pompey misalnya, harus tenggelam ke dasar bumi oleh memang begitulah ia tercatat, di lauh mahfuz.
Siapakah yang menulis puisi dengan nilai amat tinggi yang bisa dijadikan petunjuk awal ke mana novel lauh mahfuz ini hendak bergerak, referensi novel itu tidak memberi tahu kepada kita pembaca. tetapi puisi itu dapat kita baca dari narasi novel (hal 1), "Salah satunya adalah lukisan karya agus suwarge yang merupakan interpretasi sebuah puisi, 'Tuhanku'."
Itulah penjelas suasana, ruang di mana tokoh novel bernama Panji Wisesa bekerja. Ada lukisan, ada puisi. Saya tertarik dengan puisi ini, andai kita hubungkan dengan nama novel, lauh mahfuz. Di atas itu telah kita petikan dua baris darinya, sambil kelak kita menambahkan satu baris akhir. Petikan yang membuat kita menduga apakah novel ini menganut paham bahwa Tuhan itu telah pensiun, bahwa segelanya kini ia serahkan kepada kedua pena itu, yang bekerja mengikuti alurnya. Jadi Tuhan menyerahkan saja kepada kedua pena itu.
Segera muncul pemikiran spekulatif di sini: apakah kedua pena itu bisa menyimpang? apakah mereka punya kehendak untuk, sesekali, melakukan anomali dari garis yang telah ditetapkan kepada mereka untuk menuliskannya? sebuah kehendak bebas diam-diam mengintip dari kedua pena itu. Dunia bersambung kini terbentang dalam arah yang minta dijawab: pena kedua itu, terusan belakakah ia dari pena pertama?
"Tuhanku Tuhan yang diam
Tidak lagi bicara atau bersabda"
Tidak lagi bicara atau bersabda"
Ada puisi dalam novel, bukan dalam gaya penggalan seperti dalam novel olenka, tapi puisi utuh, puisi tinggi, menggetarkan oleh alirannya yang puisi, oleh nilai yang dibawakan lewat kata yang mengalir. yang dialirkan adalah Tuhan, dan tapi Dia diam.
Tuhan tak bergerak di puisi itu - sebaliknya ia bergerak lewat ciptaanNya, di antaranya gerakan novel yang meraih ke tepian 400-an halaman ini. Tuhan seperti apa itu? Membaca Tuhanku terasa nyaman, ia adil dan tak memihak - penyair ini, tetapi mengalirkan Tuhan itu, Tuhanku, ke segenap mahluk ada ini. tak cukup puas membaca dua baris untuk diletakkan ke dalam tulisan ini, saya turunkan penuh puisi Tuhanku itu. Novel ini novel dengan tema yang sedemikian besar. Ia naik dan cara ia naik itulah lewat gerak Tuhanku yang ia petik dari lauh mahfuz, di alirkan ke bumi - ke bahasa dalam novel ini.
Tuhanku
Tuhanku Tuhan yang diam
Tidak lagi bicara atau bersabda
Dia tidak bertakhta di langit
Apalagi bermukim di perut bumi
Jagat raya hanyalah karya-Nya semata
Yang Dia biarkan berlalu mengarungi waktu
Tidak lagi bicara atau bersabda
Dia tidak bertakhta di langit
Apalagi bermukim di perut bumi
Jagat raya hanyalah karya-Nya semata
Yang Dia biarkan berlalu mengarungi waktu
Dia ada di buana maya supralogika
alam penciptaan tak berasal yang kekal
alam penciptaan tak berasal yang kekal
Barangkali banyak lagi jagat raya ciptaan-Nya
Yang tak bersentuhan dengan ujung langit
Yang tak bersentuhan dengan ujung langit
Karena Dia Maha Pencipta
Karena Dia Mahakuasa
Jauh dari perilaku berhala
yang haus persembahan
Jauh dari tabiat murka
yang ditakuti mendatangkan bencana
Karena Dia Mahakuasa
Jauh dari perilaku berhala
yang haus persembahan
Jauh dari tabiat murka
yang ditakuti mendatangkan bencana
Dia tidak menghapus dosa
Tetapi memberikan jalan pengampunan
Pengampunan kepada insan yang percaya
Bahwa Dia ada dan menjanjikan keabadian
Janji yang hanya sekali diucapkan
Ketika menyampaikan sepuluh perintah-Nya
Janji yang disampaikan "Anak" satu-satu-Nya
Yang menyuarakan roh kudus dalam dirinya
Janji dari Rasul yang diistimewakan
Penutup sejarah kenabian
yang "membacakan" firman-Nya
Tetapi memberikan jalan pengampunan
Pengampunan kepada insan yang percaya
Bahwa Dia ada dan menjanjikan keabadian
Janji yang hanya sekali diucapkan
Ketika menyampaikan sepuluh perintah-Nya
Janji yang disampaikan "Anak" satu-satu-Nya
Yang menyuarakan roh kudus dalam dirinya
Janji dari Rasul yang diistimewakan
Penutup sejarah kenabian
yang "membacakan" firman-Nya
Janji melalui orang-orang pintar, mumpuni, dan suci
yang tak menyombongkan diri sebagai nabi
yang memberi teladan kebajikan dan budi pekerti
Juga janji dalam sabda dari kasta tertinggi
yang meyakini reinkarnasi sebelum sirna kehidupan di Bumi
yang tak menyombongkan diri sebagai nabi
yang memberi teladan kebajikan dan budi pekerti
Juga janji dalam sabda dari kasta tertinggi
yang meyakini reinkarnasi sebelum sirna kehidupan di Bumi
Dia Tuhan semua manusia
yang hidupnya tersekat-sekat kepercayaan
yang menapak dipandu pancaran iman
yang merindukan kehadiran-Nya
Dalam kedamaian dan kerusuhan
Dalam ketenteraman dan kekacauan
Dalam kerukunan dan permusuhan
yang hidupnya tersekat-sekat kepercayaan
yang menapak dipandu pancaran iman
yang merindukan kehadiran-Nya
Dalam kedamaian dan kerusuhan
Dalam ketenteraman dan kekacauan
Dalam kerukunan dan permusuhan
Biar teriak terlontar menggelegar sekeras petir
Biar jeritan memanggil-manggil hingga menggigil
Dia tetap diam, takkan bicara apalagi menampakkan diri
Tetapi dalam diam, Dia membiarkan terjadi
Gelombang getaran terprogram berinteraksi
Biar jeritan memanggil-manggil hingga menggigil
Dia tetap diam, takkan bicara apalagi menampakkan diri
Tetapi dalam diam, Dia membiarkan terjadi
Gelombang getaran terprogram berinteraksi
Hingga lirih alunan doa dan tetes lembut air mata
Dapat beresonansi mengabulkan harapan dan keinginan
Hingga sekecil apa pun sinyal ingkar, nafsu, dan kejahatan
Akan tertangkap dan dipantulkan dalam karma dan
pembalasan
Hingga dian kebajikan menerangi relung kehidupan
Membawa kemenangan dan melahirkan ketenangan di hati
Menuntun sukma mencapai keheningan menanti saat
perhitungan
Dapat beresonansi mengabulkan harapan dan keinginan
Hingga sekecil apa pun sinyal ingkar, nafsu, dan kejahatan
Akan tertangkap dan dipantulkan dalam karma dan
pembalasan
Hingga dian kebajikan menerangi relung kehidupan
Membawa kemenangan dan melahirkan ketenangan di hati
Menuntun sukma mencapai keheningan menanti saat
perhitungan
Tuhan yang diam
Membiarkan terjadi
Segala kemungkinan
Di perut alam
Di murka bumi
Berlatar logika
Dalam hukum-Nya
Membiarkan terjadi
Segala kemungkinan
Di perut alam
Di murka bumi
Berlatar logika
Dalam hukum-Nya
Diam-Nya mengundang orang-orang atheis mencibir sinis;
tiada guna percaya pada-Nya!
tiada guna percaya pada-Nya!
Tuhanku
Pena kedua itu kini telah jadi pena ketiga, sesaat puisi Tuhanku itu dilepaskan dan mengambil bentuknya yang final - tak ditimbang lagi apakah namanya, misalnya Tuhan atau Tuhanku. Pertemuan gema bunyi, yang membuat u sebagai ujung ku itu menadakan lain dari semisal ia hanya berbunyi Tuhan saja. Tuhanku langsung menyambungkannya dengan segenap ada, ada-mahluk ini, yang kita tahu adalah ciptaanNya lewat gerakan pena pertama yang menulis, secara gaib.
Kelak ia membisikkan setiap hal ihwal ke setiap ada-nya, tak sebegitu gaib seperti saat ia pertama mengajarkan bahasa kepada ada-nya di awal mula yakni adam. ini andai kita mengacu kepada bentuk Tuhan dari kitabNya sendiri, atau mengacu juga ke puisi dalam novel lauh mahfuz nugroho suksmanto ini. Kita kehadiran bentuk tanpa bentuk - bentuk yang tak terbayangkan, dari diri setiap ada yang berbentuk dan nyata ini. sebaliknya Tuhan tak tampak, tapi begitu nyata ia mengambil tempatnya di puisi Tuhanku ini.
Korespondensi langsung terciptaa saat "ku" menjadi penghuni hubungan Tuhan dan manusia. Seperti apa relasi itu, itu yang menarik hati karena bukanlah sebuah kebetulan, novel langit ini memasang segera setelah alinea pertama, puisi Tuhanku dengan latar lukisannya - di ruang kerja tokoh novel. atau di ruang nyata novelisnya juga? Kita sedang menghadapi bahasa, walau ia akan selalu terhubung dengan pengarangnya.
Jadi posisi novel ini membiarkan saja, dan kita beroleh Tuhan yang amat imajinatif, betapa Dia hanya melihat dari setiap gerakan pena pertama-Nya di langit, lauh mahfuz itu, yang lembar demi lembar dirinya sebagai buku langit dihiasi oleh pena langit dan setiap tinta itu adalah riwayat ada di bumi.
Inilah Tuhan yang pensiun, seperti kelak kita semua ini, rehat dari rutin - pensiun. akhirnya, parpipurna tak lagi bekerja: pensiun abadi, mati. mati adalah penisun yang tak lagi diatur atur oleh negeri negeri. kita mati, selesai, tanah, yang merawat tubuh kita itu, bukan order yang direkatkan ke tubuh. tanah yang bijaksana, seperti puisi Tuhanku ini juga, melingkarkan tubuh kita ke arah arah tapi dalam keadaan pasif. jiwanya telah pergi, diambil alih oleh "burung ponik" baru.
Occasionalism
Puisi Tuhanku itu segera membawa kita memasuki lapisan-lapisan dan di setiap tingkatan kita akan berjumpa dengan lapisan lagi. Lapisan arah besar dari gerak ke luar lewat keadaan seluas alam raya yang dibayangkan novel, serta pengalurnya, cerita novel. Bahasa sementara itu tak kuasa menghindarkan dirinya dari kualitas puisi, walau pun yang kita baca ini adalah novel. Lewat plot realis cerita mengikuti alur seolah telapak kaki, logis di jalannya sendiri. Lewat teropong panji, atau teropong ini mekar ke arah narasi, kita pun bertemu dengan posisi isi puisi Tuhanku: kejadian demi kejadian dalam dunia.
Dua dunia yang terbentang, diapungkan sebagai dua isme dalam novel. dihadap-hadapkan dalam wacana besar antara george w bush dan lawannya, saddam husein. tapi persis di sini dunia global dipungkas oleh pursuit yang memiliki watak puisi - cerita itu berakhir sebagai tanda. "arogansi george w. bush dan kesannya pada sosok serta perangai saddam husein, moamar khaddafy serta osama bin laden, mengingatakan panji pada peristiwa yang kemudian mengawali perjalanan spiritual hidupnya. ingatan itu tertuang tentang dalam sebuah catatan tentang 'berburu wirog'; yaitu tikus besar menjijikkan penghuni selokan dan gorong-gorong bawah tanah."
lapisan, jarak :
keindahan bahasa dan keindahan manusia
Jarak menarik kita kembali, seperti ditariknya jarak yang dilepas lewat cerita masa kini yang berskala global, tetapi dengan jarak yang dijauhkan, ke masa lalu, kita segera mengalami lapisan saat membayangkan nugroho suksmanto sebagai novelis: ia menuliskan bagian panji yang akhirnya menjadi labirin waktu; saat nugroho mengenang ke belakang, saat itu juga yang men-dekat-kan apa yang dibelakang itu melalui hadirnya tokoh panji. saat panji hadir, nugroho ikut ke belakang bersama kenangannya akan panji dalam rekaan.
Jadi begitulah kita, selalu berada dalam jauh dan dekat. akhirnya, terlibat dalam dunia tanda yang menjadi ciri khas sastra dengan genre puisi. ini novel, tapi tikus besar yang diburu panji, wirog, tak urung membuat asosiasi kita bergerak untuk mendekatkan apa yang menjadi nafsu-nafsu dunia sebagai bayangan gorong gorong dalam jiwa manusia.
Itulah tanda, dan itulah permainan lapisan dalam novel, saat pengarangnya, tak serta merta kita nafikan seperti kehendak beberapa orang di negeri kita, yang pandangannya terbatas itu. mereka menolak biografi pengarang/penyairnya dimasukkan sebagai satuan analisa, seolah olah mereka yakin bahwa itulah azalinya sastra.
Bahwa sastra adalah dunia otonom dan apa yang otonom adalah ciptaan. mereka belum tahu akan kehakekatan ada yang tersambung dan saling terhubung. bahwa tak suatu ada pun yang sanggup memutuskan dirinya dari lingkungannya, dan pengarang, adalah lingkungan pertama dari setiap karya sastra yang diciptakan.
Tetapi dengan begitu kita memasuki lapisan lagi, adalah pembayangan akan dunia pengarang dan terutama saat ia termenung di meja kerjanya, menuliskan apa yang ingin dijadikannya kontras tanda.
Seperti lembar-lembar kertas tempat makna terdorong keluar, demikian juga pengarang: keduanya tak bisa kita bawa masuk ke dalam badan. makna itu keluar dari lembaran lembaran kertas seperti makna menjalar dari letupan letupan bunyi dari tubuh pengarang. sama halnya, saat kita membaca dari halaman dengan saat kita membayangkan, apa yang kita baca itu kini lewat udara dialihkan oleh pengarangnya.
Mereka adalah lembar lembar kertas juga, dan untuk pertama kalinya kata lauh mahfuz kita baca dari novel ini (hal 7), dalam formasi dengan makna-makna lain yang berupa diri pemimpin.
Saya kutip:
"Seperti masyarakat diaspora yang waktu itu memimpikan kedatangan mesias sang juru selamat, dan masyarakat muslim pinggiran yang memimpikan kedatangan imam mahdi, kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam kitab tuhan yang nyata dan terpelihara, lauh mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan 'gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja'." apa itu? penjelas di bawahnya (novel ini memakaikan referensi bagi semisal apa yang ia italickan): masyarakat adil makmur aman sentosa.
"novel fakta dan novel fiksi"
Itulah keindahan, saat mata kita membaca kita melihat seseorang di dalam bahasa, kejadian-kejadian, ploting yang ditumpukan ke alur pembentuk kejadian dalam bahasa. bahwa isi-gelisah itu mungkin harus kita mengerti dari upaya yang dibukakan di dalam bahasa, saat lauh mahfuz sebagai novel, jadi bahasa, mengatakannya untuk kita,
"Kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam Kitab Tuhan yang nyata dan terpelihara, Lauh Mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja."
Jadi sebagai bentuk, maka bentuk novel itu sebagai bahasa memancarkan keindahan, lewat pemilihan pokok soal novel yang menjadi payung sedemikian lengkap tapi penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, adalah lauh mahfuz. gelisah lalu menjadi kode yang ia sembunyikan, dan kita mencarinya ke halaman-halaman novel. novel itu sendiri, telah meringkas "gelisah"nya dan akhirnya membuat dunia perlambangan akan gelisah. tikus besar, wirog, panji yang menjadi juru bicaranya, adalah pecahan pecahan kejadian dalam novel yang jadi pengikat gelisah.
Seolah-olah bagian gelisah itu adalah sebuah bangunan dari keutuhan novel yang akan menceritakan isinya, atau dunia luar yang dipajang dalam bahasa - jadi dunia luar itu dipetik, dibuat kecil sebagai bahasa adalah gelisah. ada pun isinya tinggal besar dan luas seperti yang kita kenali serta jalani. pengecilannya, gelisah, membuat bingkai novel telah berhasil ditegakkan sebagai sebuah pokok yang akan ia arungi.
Keindahan dalam bahasa, dan kini kita boleh pergi ke keindahan di luar bahasa adalah momen di mana seseorang menulis - bahkan setelah tulisannya selesai kita merenungi tulisan itu, lalu melipatkannya seraya merenungi penulisnya juga. semua terjadi di dalam pikiran dan semua akan masuk ke dalam pikiran (tak mungkin kita menjadikan gelas yang akan dituangi air, selalu selubung diri kita itu adalah dunia yang halus, tempat air yang juga halus itu tercurah ke dalam), atau seperti kini, berjalan dan tercurah ke luar - ke dua arah sekaligus adalah bahasa serta pengarangnya.
Membayangkan pengarangnya menghidupkan novelnya lewat bahan, sang pengarang yang faktual saat menuliskan bagian gelisah, atau ketika merancang totalitas novel lalu memetik imaji lauh mahfuz di langit tinggi, memutuskan untuk menjadikannya sebagai etalase pemikiran dan perasaannya, lalu dari sini ia merancang dengan daya simpatik bahwa upaya yang diam diam untuk mengubah garis dari pena gaib di langit, pena pertama, dalam kerangka laku segenap ada adalah pena kedua, telah membuat sang pengarang menjadi daerah imaji penuh keindahan juga. ia jadi novel fakta bersama novelnya adalah novel fiksi.
Tapi lalu kita itu sebenarnya menghadapi keterbatasan bahasa, mana fakta dan mana fiksi. kenyataan, bahwa segenap dunia luar tenggelam ke dunia dalam - sifatnya jadi fiktif, rekaan yang kita tidak tahu selain diri kita sendiri. fiksi dan fakta yang bergulir menjadi bahasa dan bahasa memasuki lapisan saat ditarik ke setiap arah oleh pembacanya. tapi di dalam diri pembaca, keadaan yang tak kita ketahui itu mulai lagi. akhirnya ia sebuah lingkaran bernama lapisan keindahan yang membuat keindahan itu tidak lagi menjadi semata hak novel, hak bahasa, karena pada kenyataannya ia telah berbagi peran dari setiap ada yang melingkupi novel - misalnya pengarangnya, atau bayangan kita akan pembaca novel, serta diri kita sendiri, saat kini ditempatkan ke luar, kita yang berpikir ini, memisahkan di ruang kesadaran kita itu, bahwa ini pikiran saya dan ini saya yang sedang merenungi sepenggal pikiran saya.
Pikiran saya itu jadi seolah novel lauh mahfuz itu: ia ada di luar bersama pengarangnya serta pembaca lain, membentuk realitas ketiga adalah pena ketiga. dan inilah lapisan, yang terus bergerak melingkar menempuh setiap tingkatannya yang mungkin.
berburu wirog
Bagaimana mungkin mereka dapat bertemu? padahal bahasa tak bermata sedang kata tak memiliki telinganya. mana mulutnya, di antara dua tiga kata di dalam puisi. atau di antara satu puisi penyair lain ke penyair lain lagi. seolah udara kemarin mengalir ke hari ini; seakan laut kemarin yang menerima anak sungai hari ini. - serupa apa lagi? kenyataannya kita telah mempertemukan sapardi dan helena - kita sendiri, bertemu dengan teeuw yang indah tapi sering kerepotan mengalami sapuan-sapuan jiwa penyair di dalam puisi. hidup di dalam bahasa adalah hidup di antara pertanda dan petanda dalam ruang-ruang penandaan.
seperti ke kantor,
orang hadir,
orang absen.
Saat absen, bukanlah ketiadahadiran karena ia pergi, atau ada, di tempat lain lagi. seperti kini, saya agak "absen" di mana, ke mana, apa, ujung dari kedua penyair serta seorang esais, teeuw itu, kehadiran saya kini. ia absen tapi ada, hadir di tempatnya - di tulisan tulisan yang telah meruang, meregang, dalam kepanjangan. perlahan seolah hari ini bergulir ke hari kemarin, seakan diri hari ini pergi ke ingatan kemarin, kita pergi ke tulisan kita itu. apa ujungnya, ke mana, apa.
apa akhirnya,
di mana,
apa.
Hari apakah ini? hari apakah di langit hari ini? di bumi hari ini hari yang kita namai. tapi di langit belum tentu hari yang kita namai kini. ada awan sebesar telapak tangan, turun mengambang di tengah laut kata alkitab - seseorang melihatnya dari balik bukit, seperti sang nabi yang menuruni bukitnya karena kapalnya, agak bergerak lebih lebar dari awan selebar telapak tangan, karena telah hadir tak absen lagi - jarak telah ia tempuh seperti helena yang melata di bumi, memandangi kedua organ tubuhnya terbalik dengan pandangan sapardi, yang kini matanya, kalau boleh dikecilkan, di langit itu, serupa awan sebesar telapak tangan juga. atau mata helena, yang penandanya, andai kita pegi ke langit, melihat dua penanda mengambang di antara roman muka seseorang.
suara aku yang diproduksikan helena,
beri aku warna
kalau aku buta
ajarin aku bunyi
kalau aku ini tuli
Sapardi datang ke helena, katanya - dengan sabar: masih kudengar sampai di sini dukamu wahai helena, abadi di luar tubuhmu - tubuh kita, tubuh kamu, tubuh mereka. tubuh bumi yang diterjuni oleh orang langit tempo hari.
Orang bumi, bernama nugroho suksmanto, bermata tenang dan dewasa, menyorot dari balik kaca matanya ke arah kita - setidaknya, pick fb-nya memandangi kita seperti itu; ia naik ke langit dan memetikkan satu kata untuk sapardi dan untuk helena. dibawanya satu kata itu dan dikirimkannya ke teeuw juga, ke saya juga, ke kita yang ada di bumi ini, bahwa lauh mahfuz katanya. dari sanalah muasal dukamu abadi yang terpelintir ke tubuh sedih dari seorang yang keluar dari jemari helena: o beri aku warna karena diri ini buta.
Ada di sana helena, ucapan individualistikmu itu, yang kosong dari gerak sosial sepanjang sejarah berlangsung, sapardi telah memetiknya, seolah olah begitu, tapi apakah orang sosial itu, tak didirikan juga sejarahnya lewat orang individual adalah tokoh aku dan engkau dalam puisi arah itu? berilah aku ini bunyi, walau sejenak kudengar karena ia hanya tersiul di telingaku ini. terimpit dari pandangan saat kita berkedip warna, bentuk, kerap mengelabui manusia serupa dua kaca yang kemarin kita pandangi.
Di sana, mendadak bunyi individual helena, kesedihannya. telinga yang menjadi penanda matanya, keriangannya, kini oleh dua kaca yang saling berhadapan itu memanjangkan, seperti batu yang kita lemparkan mendatar di air melompat lompat di tengah air, seperti tubuh tenggelam timbul lagi. mata individu, juga telingnya, menjadi mata sosial dari gerak dukamu abadi sapardi djoko damono - teeuw tak punya ilmu ini, maafkanlah teeuw - tapi teeuw, jangan juga dirimu berlebihan menghardik orang orang, yang dirimu anggap, tak mengerti puisi itu. jangan jadi tardji yang naik ke atas atau nirwan yang memparodikan naiknya tardji: puncakku, kupaslah, puncakku, tak juga sebatas allah.
Tapi nugroho naik ke atas untuk membawa dari langit seuntai kata yang ia raih, ia beri nama - Tuhanku
Tuhanku Tuhan yang diam
Tidak lagi bicara atau bersabda
Suatu puisi yang mengaksiskan cerita novel tebal itu. kata dipilihnya lewat kosakata jawa, tapi dunia global mengintip di punggungnya. lokal telah bermain dan tempatnya segi tiga kuningan, daerah pertemuan antarbangsa sehingga antar itu menjadi lambang bagi setiap kebudayaan yang bertemu. Tuhanku itulah payungnya, dipetik gaya bukan rumi - nugroho tak memetiknya lewat gerak jiwa mabuk, tapi kemabukan dunia itu yang ia, perlahan-lahan, latakan ke dalam puisi. saya bergerak di ruang-ruang penandaan novel lauh mahfuz itu kini, membawanya seirama dengan genap dan ganjilnya puisi.
Dukamu abadi itu tersebar, melata di dalam bahasa; langit juga turun, merendah ke dalam bahasa, ke jiwa novelis yang perlahan-lahan mulai mengembang, lewat alur bertumpu plot novelnya. nomor dua (II) berbunyi, catatan panji I, berburu wirog.
"Menyaksikan caption yang diulang-ulang CNN saat george w bush berpidato mencanangkan war on terror dengan membusungkan dada dan mengangkat bahu seperti akan berkacak pinggang, mengembalikan ingatanku pada momen sok jagoan yang pernah kulakukan pada waktu kecil. momen ini akhirnya menjadi sebuah pelajaran dan kenangan atas sikap dan perbuatanku yang arogan."
Orang yang pernah belajar ilmu dunia international tahu, setiap terdengar kata "terror", seperti kini nugroho memperdengarkannya lewat "langit"-nya ini, akan pergi ke kata lain yakni ballance, sehingga terror itu diapit oleh of dalam bentukan: balance of terror. inilah suatu gerak yang menembak dari sudut sempit, tempat novelis mengarahkan larasnya lewat novel, tembakan kecil kecilan tapi berhulu ledak besar, teror, meneror ruang ruang kesadaran manusia lewat besar dikecilkan. global di bawa ke lokal, tempat kosakata kini jadi tanda mini:
berburu wirog.
potret kita kini
Menghubung-hubungkan gagasan novel fiksi dan novel fakta adalah sebuah gerak metonimik yang keluar bukan semata tehnik berbicara bahasa kiasan dalam puisi, tapi juga adalah kebertautan dari segenap ada termasuk ada kehidupan nyata yang kini melompat, lewat bakat kaum pujangga itu, ke dalam bahasa.
Setidaknya ada dua acuan andai kelak kita menyelam, tenggelam ke dalam permainan seperti orang-orang amerika latin memainkannya, dunia labirin dengan teror politik yang terbentang lewat CNN sebagai media yang telah bergerak ke arah tanda (bagian 2 novel nugroho), ke dalam dunia batin yang mekar dari kisah panji kecil lewat pergerakan, pernah dicoba oleh ayu utami dalam novel saman, atau seorang cerpenis yang dulu, lewat h.b. jassin kita tahu, kerap berbicara tentang hantu dalam cerita cerita pendeknya - pratikno?
Bahwa novel akhirnya menjadi cermin kehidupan kita yang lebar, bergerak sebagai peristiwa yang kerap menimbulkan luka lewat perbedaan atas nama keyakinan, agama, dalam skala perbenturan yang mengerucut ke fisik, setelah wacana, tapi juga sebuah latar tentang gagasan ciptaan, novel atau puisi, dalam kesusastraan modern kita.
Saya kini berada dalam cerita yang mengharukan, lewat dunia penuh kompleksitas dan kita bertemu dengan novel indonesia yang mengaduk pelbagai genre ke dalam dirinya. terbaca banyak wajah manusia, dan bab atau bagian kedua ini, seolah-olah sebuah cerita yang berkata kepada pembacanya, bahwa yang kita hadapi novel bukan agenda politik-keagamaan, atau setidaknya, pesan dari dunia tanda yang mengacukan massagenya ke segenap permain sebagai unsur novel, memang dunia persoalan kontemporer seperti itulah yang menjadi agenda menulis: novel ini mengisyaratkan kehidupan luas lebar, dalam pelbagai bidang dalam hidup yang disentuhnya. dan ia menawarkan pandangan harmoni, tapi terlalu kerdil andai kita, saat membaca karya seni, melompat ke dalam kesimpulan kesimpulan. justru kesimpulan kesimpulan seperti itu, yang kita pikirkan, seraya menikmatinya, lewat satuan satuan cerita.
Seperti bagian kedua, tempat di mana novelis menyediakan ruang setelah melebarkan diri ke tanda yang teramat abstrak - lauh mahfuz. kini ia mulai menghitung satu demi satu, isi lauh mahfuz itu lewat gerak dirinya sendiri. tapi gerakan ini, akhirnya tak juga kuasa menjadi semata kisah biografis. selalu akan muncul sastra dari dalam novel, karena memang itulah misi seorang menulis - nugroho menuliskan kisah hidup masa kini, tapi dari pandangan novelis. latar idenya, mencampur, bergerak, dari segenap ide-ide yang pernah tumbuh juga. novel medium untuk merekatkan ke tubuhnya pluralitas ide yang tumbuh. lewat cerita panji kecil, berburu wirog, dunia lebar dari ide ide kini mekar menjadi kehidupan anak kecil yang mengharukan - tapi juga menebar tanda dunia dari manusia dewasa, dalam geraknya.

0 komentar:
Posting Komentar